Utekke Global, Lakune Lokal

This is default featured post 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Senin, 03 September 2012

Membaca Ulang Ide Revolusi Gramsci


Membaca Ulang Ide Revolusi Gramsci

Sejenak mengingat kegagalan Italia menjadi juara Piala Eropa 2012 usai kalah telak 0-4 dari Spanyol di final. Hasil tersebut membangunkan Cesare Prandelli dan ia menyadari bahwa saat ini sepakbola di negaranya sudah tertinggal jauh dan butuh perbaikan besar. Sebuah revolusi!
Italia memang tampil mengesankan dan membuat Prandelli bangga. Namun, pelatih 54 tahun itu merasa timnya tersebut sulit untuk meraih gelar jika masih berkutat dengan kondisi seperti sekarang. "Kami adalah negara tua, dengan ide lawas dan kami harus punya kemauan untuk berubah. Kami datang ke turnamen ini dengan hasrat untuk berubah dan kami harus punya kekuatan untuk yakin. Meskipun itu sulit, kami harus menemukan caranya," tukas Prandelli di Football Italia, Selasa (3/7).
"Kami sudah membangun tim nasional berdasarkan mental klub. Tapi mungkin kami masih belum siap untuk memenangi Piala Eropa. Tapi ketika kami punya keinginan untuk menang maka kami bisa menang lagi," sambungnya. Kondisi yang dimaksudkan Prandelli adalah ia merasa kurangnya dukungan dari klub serta Lega Calcio untuk dirinya bisa memantau para pemainnya di klub. Selain itu pun ia menggaris-bawahi soal pembinaan pemain muda di Italia yang tertinggal jauh dari negara macam Spanyol atau Jerman, yang dinilainya menghambat prestasi timnas level internasional.
Apa yang disampaikan Prandelli merupakan pembelajaran bagi para ide kreator revolusi. Revolusi tidak bisa dilakukan oleh segelintir komunitas apalagi individu. Revolusi harus didukung oleh setiap elemen agar tercapai tatanan baru berdasarkan kemaslahatan. Tidur panjang Prandelli sama halnya masyarakat yang pulas dibawah dongeng status quo yang perlahan menguasani malamnya dengan mimpi-mimpi indah. Tidur panjang tanpa sadar inilah hegemonik.

Hegemonik Gramsci
Relevansi ide gramsci konteks kekinian adalah konsep hegemonik dan kaitannya tentang civil society. Proses Hegemonik terjadi apabila cara hidup, cara berfikir dan pandangan pemikiran masyarakat bahwa terutama kaum ploretar telah meniru dan menerima cara berfikir dan gaya hidup dari kelompok elit yang mendominasi dan mengeksploitasi mereka, dengan kata lain, jika ideologi dari golongan yang mendominasi telah diambil alih secara suka rela oleh yang mendominasi. 
Hegemonik merupakan perjalanan suatu kelas dan anggotanya menjalankan kekuasaan terahadap kelas-kelas dibawahnya dengan cara kekerasan dan persuasif. Hegemonik bukanlah hubungan dominasi dengan menggunakan kekuasaan, melainkan hubungan dengan persetujuan dengan menggunakan kepemimpinan politik dan ideologis. Hegemonik adalah suatu organisasi konsensus.
Bagi Lenin, hegemonik merupakan strategi untuk mencapai revolusi, suatu strategi yang harus dijalankan kelas pekerja da anggota-anggotanya untuk memeperoleh dukungan dari mayoritas, Gramsci menambahkan dimensi baru pada masalah ini dengan memperluas pengertian sehingga hegemonik juga mencakup kelas kapitalis beserta anggotanya, baik dalam merebut kekuasaan negara maupun dalam mempertahankan kekuasaannya.
Gramsci membedakan dominasi (kekerasan) dengan kepemimpinan moral dan intelektual; suatu kelompok sosial bisa, bahkan harus, menjalankan kepemimpinan sebelum merebut kekuasaan pemerintahan (hal ini merupakan salah satu syarat utama untuk memperoleh kekuasaan tersebut); kesiapan itu pada gilirannya sangat penting ketika kelompk itu menjalankan kekuasaan,bahkan seandainya kekuasaan tetap berada di tangan kelompok, mereka tetap harus tetap “memimpin”.
Gramsci mengubah makna hegemonik dan strategi (sebagaimana menurut lenin) menjadi sebuah konsep Marxis tentang kekuatan dan hubungan produksi, kelas dan negara. Menjadi sarana untuk memahami masyarakat dengan tujuan untuk mengubahnya, ia mengembangkan gagasan tentang kepemimpinan dan pelaksanaannya sebagai syarat untuk memperoleh kekuasaan negara kedalam konsepnya tentang hegemonik, hegemonik merupakan hubungan antara kelas dengan kekuatan sosial lainnya, kelas hegemonik, atau kelompok kelas hegemonik, adalah kelas yang mendapatkan persetujuan dari kekuatan dan kelas sosial lain dengan cara menciptakan dan mempertahankan sistem aliansi melalui perjuangan poitik dan ideologis. Konsep ideologi dibangun dengan memasukan beberapa konsep lain yang berkaitan dengannya. Itulah sebabnya definisi yang sangat singkat tentang hegemoni tidak pernah memadai.
Namun gramsci tidak hanya menjabarkan hegemonik namun juga beberapa hal lain yakni: pertama Perang posisi, menurut Gramsci apa yang dinamakan perang posisi adalah bagaimana subyek dapat mengambil concern (persetujuan-persetujuan) yang menjadi legitimasi kekuasaan yang dapat mengikat kelas-kelas sosial yang ada dalam suatu komunitas. Kedua Revolusi pasif, Menurut gramsci apa yang dinamakan revolusi pasif adalah revolusi yang disponsori oleh lapisan “elit”. Dan konsepsi revolusi tidak muncul dikalangan bawah atau dengan kata lain revolusi yang berasal dari top-down dan bukan sebalik,mengapa revolusi bisa juga timbul pada kalangan elit. Pertama adalah kondisi yang mengharuskan sistem mengalami pembaharuan misalnya bagaimana orde baru akhirnya membutuhkan sebuah reformasi karena sistem yang mendorong terjadinya perubahan pada tahun 1998 adalah karena sistem ekonomi yang sangat merugikan pihak-pihak yang menjadi aktor didalam bidang ekonomi dan jika model tersebut terus dipertahankan maka kerugian dikalangan borjuis makin meningkat maka untuk itu di munculkanlah reformasi, mengapa bisa dikatakn demikian adalah indikasi dari analisa ini adalah pada saat itu para pengusaha banyak mengalihkan modalnya kenegara lain. Dan fenomena tersebut terjadi jauh sebelum terjadinya reformasi.

Sabtu, 21 Juli 2012

HAKIKAT GURU DALAM LEMBAGA PENDIDIKAN


BAB I
PENDAHULUAN


Pengelolaan kelas adalah keterampilan guru untuk menciptakan dan memelihara kondisi belajar yang optimal dan mengembalikannya bila terjadi gangguan dalam proses belajar mengajar. Suatu kondisi yang optimal dapat tercapai jika guru mampu siswa dan sarana pengajaran serta mengedalikannya dalam suasana yang menyenangkan untuk mencapai tujuan pengajaran. Pengelolaan kelas yang efektif merupakan persyaratan mutlak bagi terjadinya proses belajar mengajar.
Mengajar pada prinsipnya membimbing siswa dalam kegiatan belajar mengajar atau mengandung pengertian bahwa mengajar merupakan suatu usaha pengorganisasian lingkungan dalam hubungannya dengan anak didik dan bahan pengajar yang menimbulkan proses belajar (Uzer Usman, 1988:6).
Dari kutipan di atas mengandung makna bahwa gurulah yang mengatur mengawasi dan mengelola kelas agar tercapainya proses belajar mengajar yang berarah kepada tujuan-tujuan pendidikan. Hal ini sejalan dengan yang dikatakan oleh Syarifudin Nurdin bahwa guru sebagai salah satu komponen dalam kegiatan belajar mengajar, memiliki posisi yang sangat menentukan keberhasilan pembelajaran karena fungsi utama guru ialah merancang, mengelola, melaksanakan dan mengevaluasi pembelajaran (Syarifudin Nurdin, 2002:1).
Di samping itu pula guru bertanggung jawab memelihara lingkungan fisik kelasnya agar senantiasa menyenangkan untuk belajar dan lingkungan yang baik adalah yang bersifat menantang dan merangsang siswa untuk belajar, memberikan rasa aman dan kepuasan dalam mencapai tujuannya (Uzer Usman, 1998:10).
Dari beberapa keterangan di atas telah menunjukan betapa pentingnya suatu pengelolaan kelas yang baik agar tercapainya proses belajar mengajar yang akhirnya berdampak baik terhadap pencapaian prestasi belajar mengajar siswa atau anak didik. Karena dorongan itulah maka perlu adanya suatu penelitian yang mengamati tentang usaha apa yang akan dilakukan oleh guru dalam mengelola kelas maka dalam penelitian ini penulis mencoba mengamati guru dalam mengelola kelas agar tercapainya proses belajar mengajar.

BAB II
PEMBAHASAN


A.    Hakikat Guru Sebagai Pembimbing Belajar Dan Pendidikan
Sebagai mana telah diuraikan pada pendahuluan, bahwa mendidik ialah meminpin anak ke arah kedewasaan, jadi yang kiata tuju dalam pendidikan ialah kedewasaan si anak. Tidak mungkin Seorang pendidik membawa anak kepada dewasanya bukan hanya dengan nasihat-nasihat, perintah-perintah, anjuran-anjuran dan larangan-larangan saja. Melainkan yang utama ialah dengan gambaran kedewasaan yang senan tiasa dapat dibayangkan oleh anak dalam diri pendidiknya didalam pergaulan mereka (antara pendidik dan anak didik).
Seiring berjalannya waktu suatu pendidikan berubah mengikuti perkembangan jaman. Sehingga sampailah pada saat dewasa ini, guru bukan merupakan satu-satunya kontrol sosaial, melainkan dalam hal ini guru mempunyai posisi sebagai pasilitator setelah menjalankan fungsinya sebagai pelatih, pengajar dan pembimbing.
Manusai sejak lahir sudah di anugrahi fitrah, untuk membina dan mendidik serta melatih anak agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa. Ini digaskan dalam Al- Qur’an QS. Ar-Rum ayat 30.
óOÏ%r'sù y7ygô_ur ÈûïÏe$#Ï9 $ZÿÏZym 4 |NtôÜÏù «!$# ÓÉL©9$# tsÜsù }¨$¨Z9$# $pköŽn=tæ 4 Ÿw Ÿ@ƒÏö7s? È,ù=yÜÏ9 «!$# 4 šÏ9ºsŒ ÚúïÏe$!$# ÞOÍhŠs)ø9$#  ÆÅ3»s9ur uŽsYò2r& Ĩ$¨Z9$# Ÿw tbqßJn=ôètƒ ÇÌÉÈ  


Artinya:
Maka hendaklah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah Fitrah Allah yang menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. Depag RI (992: 615).



B.     Kode Etik Guru
Kode etik dapat diartikan tatalaksana pelaksana guru dalam Mengembangkan misi pendidikan. Adapun kode etik tersebur :
1.       Guru berbakti membimbing anak didik seutuhnya untuk membentuk pembangunan yang ber-Pancasila.
a.       Guru menghendaki hak individu dan kepribadian anak didiknya masing-masing.
b.      Guru berusaha mensukseskan pendidikan yang serasi (jasmaniah dan rohaniah) bagi anak didiknya.
c.       Guru harus menghayati dan mengamalkan Pancasila.
d.      Guru dengan bersungguh-sungguh mengintensifkan Pendididkan Moral Pancasila bagi anak didiknya.
e.       Guru melatih dalam memecahkan masalah-masalah dan membina daya kreasi anak didik agar kelak dapat menunjang masyarakat yang sedang membangun.
f.       Guru membantu sekolah di dalam usaha menanamkan pengetahuan keterampilan kepada anak didik.
2.       Guru memiliki kejujuran professional dalam menerapkan kurikulum sesuai dengan kebutuhan anak didik masing-masing.
a.       Guru menghargai dan memperhatikan perbedaan dan kebutuhan anak didiknya masing-masing.
b.      Guru Hendaknya luas di dalam menerapkan kurukulum sesuai dengan kebutuhan anak didik masing-masing.
c.       Guru memberi pelajaran di dalam menerapkan kurikulum tanpa membeda-bedakan jenis dan posisi orang tua muridnya.
3.       Guru mengadakan komunikasi, terutama dalam memperoleh informasi tentang anak didik, tetapi menghindarkan diri dari segala bentuk penyalahgunaan.
a.       Komunikasi guru dan anak didik di dalam dan di luar sekolah dilandaskan pada rasa kasih saying.
b.      Untuk berhasilnya pendidikan, maka guru harus mengetahui kepribadian anak dan latar belakang keluargannya masing-masing.
c.       Komunikasi guru ini hanya diadakan semata-mata untuk kepentingan pendidikan anak didik.
4.       Guru menciptakan suasana kehidupan sekolah dan memelihara hubungan dengan orang tua murid dengan sebaik-baiknya bagi kepentingan anak didik.
a.       Guru menciptakan suasana kehidupan sekolah sehingga anak didik betah berada dan belajar di sekolah.
b.      Guru menciptakan hubungan baik dengan orang tua murid sehingga dapat terjalin pertukaran informasi timbal balik dengan anak didik.
c.       Pertemuan dengan orang tua murid harus diadakan secara teratur.
5.       Guru memelihara hubungan baik dengan masyarakat di sekitar sekolahnya maupun masyarakat yang lebih luas untuk kepentingan pendidikan.
a.       Guru memperluas pengetahuan masyarakat mengenai profesi keguruan.
b.      Guru turut menyebarkan program-program pendidikan dan kebudayaan kepada masyarakat sekitarnya,sehingga sekolah tersebut turut berfungsi sebagai pusat pembinaan dan pengembangan pendidikan dan kebudayaan di tempat itu.
c.       Guru harus berperan agar dirinya dan sekolahnya dapat berfungsi sebagai unsur pembaru bagi kehidupan dan kemajuan daerahnya.
d.      Guru turut bersama-sama masyarakat sekitarnya di dalam beraktivitas.
e.       Guru mengusahakan terciptanya kerja sama yang sebaik-baiknya antara sekolah, orang tua murid, dan masyarakat bagi kesempurnaan usaha pendidikan atas dasar kesadaran bahwa pendidikan merupakan tanggung jawab bersama antara pemerintah,orang tua murid dan masyarakat.
6.       Guru secara sendiri-sendiri dan atau bersama-sama Mengembangkan dan meningkatkan mutu profesinya.
a.       Guru melanjutkan studinya dengan:
1.      Membaca buku-buku
2.      Mengikuti lokakarya, seminar, gerakan kopersi, dan pertemuan-pertemuan pendidikan dan keilmuan lainnya.
3.      Mengikuti penataran
4.      Mengadakan kegiatan-kegiatan penelitian.
b.      Guru selalu bicara, bersikap, dan bertindak sesuai dengan martabat profesinya.
7.       Guru menciptakan dan memelihara hubungan antar sesama guru baik berdasarkan lingkungan kerja maupun di dalam hubungan keseluruhan.
a.       Guru senantiasa bertukar informasi,,pendapat,saling menasihati dan Bantu membantu satu sama lainnta,baik dalam kepentingan pribadi maupun dalam menunaikan tugas profesinya.
b.      Guru tidak melakukan tindakan-tindakan yang merugikan nama baik rekan-rekan seprofesinya dan menunjang martabat guru baik secara keseluruhan maupun pribadi.
8.       Guru secara bersama-sama memelihara,membina,dan meningkatkan organisasi guru professional sebagai sarana pengabdiannya.
a.       Guru menjadi anggota dan membantu organisasi guru yang bermaksud membina profesi dan pendidikan pada umumnya.
b.      Guru senantiasa berusaha meningkatkan persatuan diantara sesama pengabdi pendidikan.
c.       Guru senantiasa berusaha agar menghindarkan diri dari sikap-skap,ucapan-ucapan dan tindakan-tindakan yang merugikan organisasi.
9.       Guru melaksanakan segala ketentuan yang merupakan kebijaksanaan pemerinah dalam bidang pendidikan.
a.       Guru senantiasa tunduk terhadap kebijaksanaan dan ketentuan-ketentuan pemerintah dalam bidang pendidikan.
b.      Guru melekukuan tugas profesinya dengan diplin dan rasa pengabdian.
c.       Guru berusaha membantu menyebarkan kebijaksanaan dan program pemerintah dalam bidang pendidikan kjepada orang tua murid dan masyarakat sekitarnya
d.      Guru berusaha menunjang terciptanya kepemimpinan pendidikan di lingkungan atau di daerah sebaik-baiknya. (Dikutip dari buku landasan Organisasi PGRI)

C.    Guru sebagai Pembimbing, Pengajar dan Pendidikan
Banyak diantara guru yang merasa bahwa pekerjaan sebagai guru adalah rendah atau hina jika dibandingkan dengan pekerjaan kantor atau bekerja disuatu PT. Hal ini di sebabkan pandangan masyarakat terhadap guru masih sempit dan ficik, suatu pandangan yang umumnya yang bersifat meteriallistik, hanya pada keduniawian belaka.
Dari uraian dimuka telah jelas bahwa pekerjaan guru itu berat, tetapi luhur dan mulia. Tugas guru tidak ada “mengajar”,teapi juga “mendidik”.maka untuk melakukan tugas sebagai guru,tidak sembarangan orang dapat menjalankannya.sebagai guru yang baik harus memiliki syarat-syarat yang di dalam undang-undang No 12 tahun 1945 tentang dasar-dasar pendidikan dan pengajaran di sekolah untuk seluruh Indonesia,pada pasal 15 dinyatakan tentang guru sebagai berikut:
“Syarat utama untuk menjadi guru,selain ijazah dan syarat-syarat yang mengenai kesehatan jasmani dan rohani,ialah sifat-sifat yang yang perlu untuk dapat memberi pendidikan dan pengajaran seperti yang dimaksud dalam pasal 3,pasal 4 dan pasal 5 undang-undang ini”
Di samping persyaratan diatas, tentu masih banyak syarat yang lain yang harus dimiliki guru jika kita menghendaki agar tugas atau pekerjaan guru mendatangkan hasil yang lebih baik.
 

 


BAB III
KESIMPULAN

Guru merupakan orang yang mengatur, mengawasi dan mengelola kelas agar tercapainya proses belajar mengajar yang berarah kepada tujuan-tujuan pendidikan. Hal ini sejalan dengan yang dikatakan oleh Syarifudin Nurdin bahwa guru sebagai salah satu komponen dalam kegiatan belajar mengajar, memiliki posisi yang sangat menentukan keberhasilan pembelajaran karena fungsi utama guru ialah merancang, mengelola, melaksanakan dan mengevaluasi pembelajaran (Syarifudin Nurdin, 2002:1).
Di samping itu pula guru bertanggung jawab memelihara lingkungan fisik kelasnya agar senantiasa menyenangkan untuk belajar dan lingkungan yang baik adalah yang bersifat menantang dan merangsang siswa untuk belajar, memberikan rasa aman dan kepuasan dalam mencapai tujuannya (Uzer Usman, 1998:10).
Dari beberapa keterangan di atas telah menunjukan betapa pentingnya suatu pengelolaan kelas yang baik agar tercapainya proses belajar mengajar yang akhirnya berdampak baik terhadap pencapaian prestasi belajar mengajar siswa atau anak didik. Mau tidak mau pada posisi ini guru merupakan aktor utama yang sekaligue menjadi sutradara pembelajaran guana tercapainya hasil pembelajaran yang maksimal.













DAFTAR PUSTAKA


Al-Qur’an dan tarjamah. DEPAG RI

Bambang, S. 2006. Pedoman untuk Mneyusun Panduan Pengembangan Silabus Mata Pelajaran. Jakarta: Penerbit Mentri Pendidikan Nasional

Wasty, S. 2006. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta

Mas’ud, Abdurohman. 2002. Menggagas Format Prndidikan. Jogjakarta: Gama Media

Arifin, Muzyasin. 1988. Pendidikan Islam dan Arus Dinamika Masayarakat. Jakarta: IAIN Syarif Hidayatullah